Kamis, 23 November 2017

Dinar Dan Dirham

Nama : Fivi Sri Miranti
Npm : 1601270042
Prodi : Perbankan Syariah
Dosen : Totok Harmoyo, M. Si
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara




BAB VI 
DINAR-DIRHAM 

  • Sejarah Uang Dinar 
Secara bahasa, dinar berasal dari kata Denarius (Romawi Timur) dan Dirham berasal dari kata Drachma (Persia). Menurut hukum islam, uang dinar yang dipergunakan adalah setara 4,25 gram emas 22 karat dengan diameter 23 milimeter. Standar telah ditetapkan pada masa Rasulullah dan telah dipergunakan oleh Worl Islamic Trading Organization (WITO) hingga saat ini. Sedangkan uang Dirham setara dengan 2.975 gram perak murni. Dinar dan Dirham adalah mata uang yang berfungsi sebagai alat tukar baik sebelum datangnya islam maupun sesudahnya (Sanusi, 2002).
  • Perdagangan Internasional 
Perdagangan Internasional merupakan elemen penting dari proses globalisasi. Membukan perdagangan di berbagai dunia akan memberikan keuntungan dan membawa pertumbuhan ekonomi dalam negeri, baik secara langsung berupa pengaruh yang di timbulkan terhadap alokasi sumber daya dan efisiensi, maupun secara tidak langsung berupa naiknya tingkat investasi. Setiap bentuk hambatan dan proteksi merupakan sumber distorsi pada perdagangan internasional yang harus dihindari dan dihapuskan.
  • Dampak Penggunaan Uang Dinar Dalam Perdagangan Internasional
Penggunaa uang dinar merupakan suatu solusi atas perekonomian dunia yang menggunakan uang fiat. Penggunaan uang fiat menimbulkan ketidakstabilan perekonomian dunia, dan untuk mengatasi hal itu dibutuhkna mata uang yang lebih stabil, yaitu dinar emas. Pada tahun 1250 M/648 H di negara Mesir uang dinar yang dijadikan sebagai dasar moneter pernah dipengaruhi oleh penggunaan uang fulus, yaitu uang campuran dari kuningan dan tembaga. Penggunaan uang fulus dan ditambahkan oleh kondisi perekonomian yang buruk telah menyebabkan harga yang tidak stabil. Untuk mengatasi hal tersebut Al-Maqrizi (768-845 M) dalam bukunya Ighotsatul Ummah Bi Kasyfil Ghummah menjelaskan kondisi tersebut terperinci serta memberikan jalan keluar bagi kondisi perekonomian Mesir pada waktu itu. Diantara pemikiran Al-Maqrizi tersebut adalah.
  1. Hanya dinar dan dirham yang bisa digunakan sebagai uang.
  2. Menghentikan penurunan nilai uang (Debasement Of Money).
  3. Membatasi penggunaan uang fulus.
  • Alasan Dan Keunggulan Dari Penggunaan Uang Dinar 
Ada beberapa alasan dari penggunaan mata uang dinar islam dalam menuju stabilitas sistem moneter, antara lain :
  1. Uang yang stabil.
  2. Alat tukar yang tepat.
  3. Menggurangi spekulasi, manipulasi dan arbitrase.
  • Uang Dinar Dan Transaksi Perdagangan Bilateral
Transaksi perdagangan bilateral merupakan perdagangan yang melibatkan dua negara. Perdagangan bilateral akan melibatkan peran dari bank sentral kedua negara. Dalam perdagangan bilateral kedua negara terlebih dahulu akan menentukan batas kredit (Credit Limit) dan perbayaran yang dilakukan oleh bank sentral adalah pembayaran secara periodik berupa mentransfer emas atau dengan cara kepemilikan emas di bank kustodian. Para pedagang dalam transaksi bilateral yaitu para pengekspor dan pengimpor akan melakukan pembayaran dengan menggunakan uang domestik (Cheong,2003).

Sabtu, 18 November 2017

Uang Dan Permintaan Uang

Nama : Fivi Sri Miranti
Npm : 1601270042
Prodi : Perbankan Syariah
Dosen : Totok Harmoyo, M. Si
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara


BAB 5
Uang Dan Permintaan Uang


  • Sejarah Uang 
Pada peradaban awal, manusia memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Mereka memperoleh makanan dari berburu atau memakan berbagai buah-buahan, Karena jenis kebutuhannya masih sederhana, mereka belum membutuhkan orang lain. Masing-masing individu memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Dalam periode yang dikenal sebagai periode prabarter ini, manusia belum mengenal transaksi perdagangan atau kegiatan jual beli. Itulah sebabnya diperlukan suatu alat tukar yang dapat diterima oleh semua pihak. Alat tukar itu disebut Uang. Pertama kali, uang dikenal dalam peradaban Sumeria dan Babylonia.

Uang kemudian berkembang dan berevolusi mengikuti perjalan sejarah. Dari perkembangan inilah, uang kemudian bisa dikatagorikan dalam tiga jenis yaitu, uang barang, uang kertas, dan uang giral atau uang kredit.
  • Uang Barang (commodity money)
Uang barang adalah alat tukar yang memiliki nilai komoditas atau bisa diperjualbelikan apabila barang tersebut digunakan bukan sebagai uang. Namun tidak semua barang bisa menjadi uang, diperlukan tiga kondisi utama, agar suatu barang bisa dijadikan uang, antara lain :
  1. Kelangkaan (scarcity), yaitu persediaan barang itu harus terbatas.
  2. Daya tahan (durability), barang tersebut harus tahan lama.
  3. Nalai tinggi, maksudnya barang yang dijadikan uang harus bernilai tinggi, sehingga tidak memerlukan jumlah yang banyak dalam melakukan transaksi.
  • Uang Tanda/ Kertas (token money)
Ketika uang logam masih digunakan sebagai uang resmi dunia, ada beberapa pihak yang melihat peluang meraih keuntungan dari kepemilikan mereka atas emas dan perak. Pihak-pihak ini adalah bank, orang yang meminjamkan uang dan pandai emas (goldsmith) atau toko-toko perhiasan. Mereka melihat bukti peminjaman, penyimpanan atau penitipan emas dan perak dan di tempat mereka juga bisa diterima di pasar.

Dan kemudian berlanjut sampai uang kertas menjadi alat tukar yang domina, dan semua sistem perekonomian menggunakannya sebagai alat tukar utama. Malahan sekarang, uang yang dikeluarkan oleh bank sentral tidak lagi didukung oleh cadangan emas.

Ada beberapa keuntungan penggunaan uang kertas, di antaranya biaya pembuatan rendah, pengirimannya mudah, penambahan dan pengurangan lebih mudah dan cepat, serta dapat dipecah-pecahkan dalam jumlah berapa pun.

Namun kekurangan uang kertas juga cukup signifikan, antara lain uang kertas ini tidak bisa dibawa dalam jumlah yang besar karena uang kertas mudah rusak.
  • Uang Giral (deposit money)
Uang giral adalah uang yang dikeluarkan oleh bank-bank komersial melalui pengeluaran cek dan alat pembayaran giro lainnya. Uang giral ini merupakan simpanan nasabah di bank yang dapat diambil setiap saat dan dapat dipindahkan kepada orang lain untuk melakukan pembayaran. Artinya, cek dan giro yang dikeluarkan bank mana pun bisa digunakan sebagai alat pembayaran barang, jasa dan utang. Kelebihan uang giral sebagai pembayarang adalah :
  1. Kalau hilang dapat dilacak kembali sehingga tidak bisa diuangkan oleh yang tidak berhak.
  2. Dapat dipindah tangankan dengan cepat dan ongkos yang rendah.
  3. Tidak diperlukan uang kembali sebab cek dapat ditulis dengan nilai transaksi.
  • Teori Permintaan Dan Penawaran Uang Pendekatan Ekonomi Konvensional
Teori permintaan uang dalam ekonomi konvensional terbagi kedalam tiga kelompok, yaitu teori permintaan uang sebelum keynes, teori permintaan uang menurut Keynes, dan teori permintaan uang sesudah Keynes.
  • Teori Permintaan Uang Sebelum Keynes
Teori permintaan uang sebelum Keynes sering disebut sebagai teori permintaan uang klasik karena teori ini berdasarkan asumsi klasik, yaitu perekonomian selalu dalam keadaan seimbang . Teori permintaan uang sebelum keynes diantaranya teori permintaan uang Irving Fisher dan teori permintaan uang Cambridge.
  • Teori Permintaan Uang Setelah Keynes 
Terdapat tiga teori permintaan uang setelah masa keynes, yaitu teori permintaan uang untuk tujuan transaksi oleh Baumol, teori permintaan uang untuk spekulasi oleh Tobin, dan teori permintaan uang menurut Friedman.
  • Uang Dalam Pandangan Islam 
Dalam sejarah islam, uang merupakan sesuatu yang diadopsi dari peradaban Romawi dan Persia. Ini dimungkinkan karena penggunaan dan konsep uang tidak bertentangan dengan ajaran islam. Dinar adalah mata uang emas yang diambil dari Romawi dan dirham adalah mata uang perak warisan peradaban Persia. Perihal dalam Al-quran dan Hadist dua logam mulia ini, emas dan perak, telah disebutkan baik dalam fungsinya sebagai mata uang atau sebagai harta dan lambang kekayaan yang disimpan.

Selasa, 17 Oktober 2017

Perekonomian Tertutup Dengan Kebijakan Pemerintah

Nama : Fivi Sri Miranti
Npm : 1601270042
Prodi : Perbankan Syariah
Dosen : Totok Harmoyo, M. Si
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara


BAB 4 
Perekonomian Tertutup Dengan Kebijakan Pemerintah


  • Pengertian dan Ruang Lingkup Perekonomian Tertutup dengan Kebijakan Pemerintah dalam Perspektif Ekonomi Konvensional
Adanya unsur pemerintahan yang menimbulkan dua konsekuensi perhitungan pendapatan nasional, yaitu dari sudut pengeluaran yang memunculkan pengeluaran pemerintah dari sudut penerima memunculkan komponen pajak. Tentunya hal ini menyebabkan berkembangnya perhitungan keseimbangan pendapatan nasional dari sudut pengeluaran menjadi :
Y=C+I+G
Dimana
C : Consumption (pengeluaran yang dilakukan rumah tangga)
I : Investment (pengeluaran yang dilakukan perusahaan)
G: Goverment expenditure (pengeluaran yang dilakukan pemerintah)

Sedangkan keseimbangan pendapatan nasional dari sudut penerimaan menjadi :
Y=C+S+T
Dimana
S : Saving atau tabungan
T : Tax atau pajak
  • Dampak Pajaka Terhadap Konsumsi dan Tabungan
Dengan berkurangnya pendapatan disposable tentunya akan mengurangui pula tingkat konsumsi dan seterusnya akan mengurangi tingkat tabungan. Untuk melihat sampai sejauh mana pajak dapat mempengaruhi konsumsi, maka dapat dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan pajak yang dikenakan, yaitu :
  1. Pengaruh pajak tetap (yaitu,besaran pajak yang jumlahnya sama pada berbagai tingkat pendapatan) terhadap pengeluaran konsumsi dan tabungan.
  2. Pengaruh pajak proposional (yaitu, besaran pajak yang ditentukan dengan persentase tertentu dari tingkat pendapatan) terhadap tingkat konsumsi dan tabungan.
  • Dampak Pajak Tetap Terhadap Konsumsi dan Tabungan
Guna melihat dampak pajak tetap terhadap konsumsi dapat diberikan suatu ilustrasi perhitungan sebagai berikut :

C =100+0,85Yd
T=10
Besarnya konsumsi sebelum ada pajak :
Y=C
Y=100=0,85Y
Y=(1/0,15)100
Y=667(Pembulatan)
C=667
Besarnya konsumsi setelah ada pajak tetap :
Yd=667-10
Yd=657
C=100+0,85(667-10)
C=658(Pembulatan).
  • Dampak Pajak Proposional Terhadap Konsumsi dan Tabungan 
Guna melihat dampak pajak proporsional terhadap konsumsi, dapat diberikan suatu ilustrasi perhitungan sederhana sebagai berikut :
C=100+0,85Yd
T=0,005Y
Besarnya konsumsi sebelum pajak ;
Y=C
Y=100+0,85Y
Y=(1/0,15)100
Y=667 (Pembulatan)
C=667
Besarnya konsumsi setelah ada pajak proporsional (5%):
C=100+0,85(Y-0,05Y)
C=100+0,8075Y
C=100+0,8075(667)
C=639 (Pembulatan)
  • Dampak Pengeluaran Pemerintah dan Pajak Terhadap Keseimbangan Perekonomian Serta Multiplier
Ketika pembahasan perekonomian tertutup tanpa kebijakan pemerintah besarnya multiplier 1/(1-b), bagaimana multiplier setelah masuknya pemerintahan dalam sistem ekonomi? Sepertinya telah diuraikan pada bagian sebelumnya masuknya unsur pemerintah menimbulkan dampak pada dua sisi, yaitu dari sisi pengeluaran dan sisi penerimaan berupa pajak.
  • Multiplier Perekonomian dengan Sistem Pajak Tetap
Jika dikenakan pajak tetap, maka besaran multiplier dapat diterangkan dengan menggunakan asumsi-asumsi sebagai berikut :
  1. Fungsi konsumsi adalah C=a+bYd
  2. Besar pajak tetap adalah T=Tx
  3. Fungsi investasi adalah autonomous (I=Io)
  4. Fungsi pengeluaran pemerintah adalah aotonomous (G=Go)
  • Multiplier Perekonomian dengan Sistem Pajak Proporsional
Jika dikenakan pajak tetap maka besaran multiplier dapat diterangkan dengan menggunakan asumsi-asumsi sebagai berikut :
  1. Fungsi konsumsi adalah C=a+bYd
  2. Besar pajak tetap adalah T=tY
  3. Fungsi investasi adalah autonomous (I=Io)
  4. Fungsi pengeluaran pemerintah adalah autonomous (G=Go)
Berdasarkan asumsi tersebut maka kita dapat menghitung multiplier perekonomian sebagai berikut :
Y =C+I+G
Y =a+bYd+I+G
Y =a+b(Y-tY)+I+G
Y =a+bY-btY+I+G
Y-bY+btY+I+G
Y =(a+I+G).
  • Pengertian dan Ruang Lingkup Perekonomian Tertutup dengan Kebijakan Pemerintah dalam Perspektif Ekonomi Islam
Dalam negara islam, kebijakan fiskal merupakan salah satu perangkat untuk mencapai tujuan syariah yang dijelaskan Imam Al-Ghazali termasuk meningkatkan kesejahteraan dengan tetap menjaga keimanam, kehidupan, intelektualitas, kekayaan, dan kepemilikan.
Dalam konsep ekonomi islam, kebijakan fiskal bertujuan untuk mengembangkan suatu masyarakat yang didasarkan atas distribusi kekayaan berimbang dengan menempatkan nilai-nilai material dan spritual pada tingkat yang sama (M.A.Manan,1993).


Minggu, 15 Oktober 2017

Perekonomian Tertutup Tanpa Kebijakan Pemerintah

Nama : Fivi Sri Miranti
Npm : 1601270042
Prodi : Perbankan Syariah
Dosen : Totok Harmoyo, M. Si
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

BAB 3 : Perekonomian Tertutup Tanpa Kebijakan Pemerintah 

  • Pengertian Dan Ruang Lingkup Perekonomian Tertutup Tanpa Kebijakan Pemerintah Dalam Perspektif Ekonomi Konvensional 
Pada bagian ini akan dibahas perekonomian dua sektor, yaitu perekonomian yang terdiri dari pengeluaran yang dilakukan rumah tangga konsumen yang biasanya disebut dengan consumption (c) dan pengeluaran yang dilakukan rumah tangga produsen (firm) yang biasanya disebut dengan investment (I). Keseimbangan perekonomian sederhana atau dua sektor dapat dituliskan dengan notasi berikut : Y=C+I . Persamaan ini mencerminkan kondisi antara output yang diproduksi (Y) sama dengan output yang dijual (C+I). Penggunaan tanda = (identitas) dan bukan = (persamaan). Karena identitas adalah pernyataan yang selalu benar secara langsung dimasukkan oleh definisi dari variabel atau hubungan perhitungan (Dornbusch dan Fischer, 1990).

  • Fungsi Konsumsi Dan Tabungan Dengan Pendekatan Ekonomi Konvensial 
Menurut Keynes, konsumsi merupakan fungsi pendapatan (C=f(Y)) yang dalam persamaan dapat ditulis sebagai berikut C= a+b Y.
C = besarnya pengeluaran konsumsi rumah tangga
a = besarnya konsumsi yang tidak tergantung pada jumlah pendapatan atau konsumsi jika tidak ada pendapatan (aotonomous  consumption)
b = marginal propensity to consumen atau hasrat marginal dari masyarakat untuk melakukan konsumsi
Y = pendapatan disposable (pendapatan yang siap digunakan untuk mengonsumsi) a>o dan o<b<1.
Terkait dengan model fungsi konsumsi yang dikemukakan Keynes tersebut, kemudian muncul beberapa pendapatan yang mengomentari fungsi konsumsi yang dikemukakan Keynes antara lain dapat dikemukakan (Mankiw,2000) sebagai berikut.
  1. Franco Modigliani dengan Hipotensis Daur Hidup (life cycle hyphothesis) Modigliani menekankan bahwa tingkat pendapatan bervariasi secara sistematis selama kehidupan seseorang dan tabungan dapat menggerakan pendapatan dari masa hidupnya.
  2. Militon Friedman dengan Hipotesis Pendapatan Permanen (permanent income hyphothesis). Menurut Friedman pendapatan (Y) merupakan penjumlahan antara pendapatan permanen dan pendapatan transitoris. Yang dimaksud dengan pendapatan permanen adalah bagian pendapatan yang diharapkan orang untuk terus bertahan di masa depan. Sedangkan pendapatan transitoris adalah bagian pendapatan yang tidak diharapkan terus bertahan.
  • Fungsi Konsumsi Dan Tabungan Dengan Pendekatan Ekonomi Islam 
Pembahasan fungsi konsumsi dalam pendekatan ekonomi Islam banyak dilakukan para ahli ekonomi Islam, pada bagian ini akan dibahas beberapa pandangan diantaranya yang terkait dengan fungsi konsumsi.

  • Pandangan Fahim Khan Tentang Fungsi Konsumsi Dan Tabungan 
Keynes yang menyatakan konsumsi yang dilakukan rumah tangga konsumen dipengaruhi oleh tingkat pendapatan seperti terlihat pada persamaan (3.5), maka Khan (1995) membagi tingkat pendapatan masyarakat tersebut atas pendapatan yang berada atas nisab yang dinotasikan dengan pendapatan yang berada dibawah nisab yang dinotasikan dengan (lower classes / golongan miskin).

  • Pandangan Metwally Tentang Fungsi Konsumsi Dan Tabungan
Dalam mengembangkan fungsi konsumsi dalam perspektif islam, Metwally menggunakan beberapa pendekatan hipotesis teori, yang dapat dijelaskan secara sederhana sebagai berikut :
  • Hipotesis Pendapatan Mutlak 
Hipotesis ini menyatakan bahwa konsumsi dalam periode waktu tergantung pada pendapatan siap konsumsi pada periode tersebut. Naiknya pendapatan akan menigkatkan konsumsi, tetapi peningkatan konsumsi lebih kecil dari peningkatan pendapatan.
  • Hipotesis Pendapatan Relatif (The Relatiive Income Hyphothesis)
Hipotesis pendapatan relatif menyatakan konsumsi sekarang sengaja saja ditentukan pendapatan siap konsumsi pada masa sekarang tetapi juga pendapatan sebelumnya (pendapatan masa puncak atau Yp). Sehingga menurut hipotesis ini konsumsi rata-rata (APC) dan hasrat konsumsi marginal (MPC) konstan. Jika pendapatan sekarang lebih kecil dari pendapatan puncak, maka MPC<APC.
  •  Pandangan Munawar Iqbal Tentang Konsumsi
Iqbal dalam catatannya mengulas beberapa tulisan dalam wilayah yang tidak menyajikan teori konsumsi Islam. Iqbal bergabung dengan penulisan-penulisan saat ini pada sudut pandang bahwa pengaruh pada konsumsi yang dikeluarkan pada jalan Allah , termasuk zakat, menjadi ketentuan Islam tentang hidup yang dapat diterima dalam memperkenalkan biaya pengumpulan zakat pada model ini.
  • Fungsi Investasi Dengan Pendekatan Ekonomi Konvensional 
Ada 3 bentuk pengeluaran investasi :
  1. Investasi tetap bisnis, yaitu pengeluaran investasi untuk pembelian berbagai jenis barang-barang modal yaitu mesin dan peralatan produksi lainnya untuk mendirikan berbagai jenis industri dan perusahaan.
  2. Investasi residensial, yaitu pengeluaran untuk mendirikan rumah tempat tinggal bangunan kantor, bangunan pabrik, dan bangunan lainnya. 
  3. Investasi persediaan, yaitu berupa pertambahan nilai stok barang yang belum terjual, bahan mentah, dan barang yang masih dalam proses produksi pada akhir tahun perhitungan pendapatan nasional.
  • Fungsi Investasi Dengan Pendekatan Ekonomi Islam
Fungsi investasi dengan pendekatan ekonomi islam tertentu berbeda dengan fungsi investasi dengan pendekatan ekonomi konvensional. Menurut Metwally (1995), investasi di negara-negara penganut ekonomi islam dipengaruhi oleh 3 faktor : (1) ada sanksi terhadap pemengan aset yang kurang atau tidak produktif (hoarding idle asset), (2) dilarang melakukan berbagai bentuk spekulasi dan segala macam judi, dan (3) tingkat bunga untuk berbagai pinjaman sama dengan nol.


Jumat, 13 Oktober 2017

Review jurnal asing

Nama : Fivi Sri Miranti
Npm : 1601270042
Prodi : Perbankan Syariah
Dosen : Totok Harmoyo, M. Si
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara



Efek Makroekonomi Faktor Penentu Pada Kinerja Pasar Saham India


  • Abstrak

Studi ini meneliti tentang efek makroekonomi tentang faktor penentu pada kinerja orang India
Stock market ini selalu menggunakan data bulanan selama periode yaitu pada bulan Januari 1991 
sampai Desember 2011, dan memiliki delapan variabel makroekonomi yaitu : Suku Bunga, Inflasi, 
Nilai Tukar, Indeks Industri Produksi, Uang Beredar, Harga Emas, Harga Perak & Harga  Minyak
Dengan menerapkan tes akar yang diusulkan dari Unit Dickey Fuller, Johansen Cointegration,  studi 
ini menemukan bahwa suku bunga adalah Indeks produksi industri, harga emas, harga perak  dan 
harga minyak. Inflasi dan uang pasokan merupakan hubungan antara variabel makroekonomi dan 
indeks pasar saham.
 
  • Introduction 
Pasar keuangan memainkan peran penting dalam dasar sistem keuangan yang stabil dan efisien dalam
sebuah perekonomian. Banyaknya rumah tangga dan faktor internasional secara langsung maupun  
tidak langsung dapat  mempengaruhi kinerja pasar saham. Hubungan antara variabel makroekonomi 
dalam pengembangan pasar saham terdokumentasi dengan baik dalam literatur. Studi ini dapat 
memperluas literatur yang ada di konteks studi orang India dan juga mempertimbangkan delapan 
variabel makroekonomi diantaranya : Suku bunga, Inflasi, Nilai Tukar, Indeks Industri Produksi, Uang 
Beredar, Harga Emas, Harga Perak dan Harga Minyak. Ada dua komposit yang banyak digunakan di  
indeks pasar saham India  yaitu : Sensex & CNX Nifty. Pasokan uang dan Inflasi memiliki nilai 
positif hubungan di antara mereka sendiri. Namun, uang pasokan dan Inflasi memiliki efek ganda 
pada saham kenaikan  Inflasi, yang akan kembali meningkat, tingkat pengembalian yang diharapkan 
penggunaan tingkat harapan tinggi yang  akan menurunkan nilai perusahaan dan akan menghasilkan 
harga saham yang lebih rendah. Kedua kenaikan uang penyediaan dan Inflasi meningkatkan arus kas  
dimasa depan PT perusahaan, yang diharapkan dapat menaikkan harga saham. 
Depresiasi mata uang domestik terhadap mata uang asing meningkatkan ekspor nilai tukar harus  
memiliki hubungan negatif dengan pasar saham. Tapi diwaktu yang sama, depresiasi mata uang 
domestik meningkat dan biaya impor yang menunjukkan nilai positif  antara  nilai tukar dan pasar  
saham perlu diperiksa  lagi Indeks produksi industri yang mencerminkan tingkat pertumbuhan industri. 
Nilai positif dari hubungan yang diharapkan antara Indeks produksi Industri dan pasar saham. Emas 
dan perak digunakan sebagai jalur investasi. Kenaikan Harga emas dan perak menarik investor ke arah  
pasar komoditas, yang bisa menurunkan investor preferensi terhadap pasar ekuitas. Dan Ini 
menunjukkan bahwa hubungan negatif diharapkan terjadi antara emas dan perak, dan imbal hasil pasar 
saham. Untuk pasokan minyak, India bergantung pada pasar minyak internasional karena itu, lebih 
tinggi, harga minyak internasional meningkatkan biaya produksi, yang bisa menurunkan keuntungan 
perusahaan, dan karenanya menurunkan harga saham oleh karena itu yang diharapkan hubungan antara 
harga minyak dan harga saham adalah
negatif.
 
  •  Faktor Makroekonomi yang mempengaruhi Pasar Saham
Shanken dan Weinstein (2006) menyimpulkan bahwa hanya Indeks Produksi Industri yang merupakan 
faktor yang signifikan untuk pasar saham. Yang dan Wang (2007) menyimpulkan itu dalam jangka 
pendek, meski beralasan antara nilai tukar RMB dan indeks saham, antara nilai tukar RMB dan saham  
indeks. Frimpong (2009) menyimpulkan bahwa dengan variabel makroekonomi mempengaruhi harga 
saham yang negatif . Aydemir dan Demirhan (2009) melaporkan hubungan dua arah antara pertukaran  
tingkat dan semua indeks pasar saham. Adebiyi dkk (2009) membentuk hubungan kausal dari minyak  
guncangan harga terhadap tingkat pengembalian saham, dan dari saham kembali ke nilai tukar riil. 
Aliet al. (2010) ditemukan koordinasi itu ada antara industri indeks produksi dan harga saham. Namun, 
tidak memiliki hubungan kausal ditemukan di indikator makroekonomi dan harga saham di Indonesia
Pakistan. Cagli dkk. (2010) menemukan stok pasar terintegrasi dengan domestik bruto
produk, harga minyak mentah A.S , dan industri produksi. Hosseini dan Ahmad (2011) menemukan 
kedua hubungan jangka panjang dan jangka pendek antara pasar saham indeks dan variabel makro 
ekonomi seperti minyak mentah harga (COP), uang beredar (M2), industri produksi (IP) dan tingkat 
inflasi (IR) di India dan Indonesia Cina.  Buyuksalvarci (2010) menyimpulkan bahwa suku bunga, 
indeks produksi industri, harga minyak, dan nilai tukar mata uang asing memiliki efek negatif, 
sementara pasokan uang memiliki pengaruh positif terhadap Turki, kembali di sisi lain, tingkat inflasi 
dan harga emas sepertinya tidak signifikan efek. Daly dan Fayyad (2011), setelah belajar dari tujuh
negara (Kuwait, Oman, UEA, Bahrain, Qatar, Inggris dan Amerika Serikat), menemukan bahwa harga 
minyak bisa memprediksi stok kembali lebih baik setelah kenaikan terbaru harga minyak. Liu dan  
Shrestha (2008) menemukan bahwa hubungan antara harga saham dan variabel makro ekonomi seperti 
jumlah uang beredar, produksi industri, inflasi, nilai tukar dan suku bunga. Azizan dan Sulong (2011) 
menemukan itu pasar saham Malaysia lebih terintegrasi dengan variabel ekonomi negara-negara Asia 
lainnya. Juga menemukan bahwa harga saham dan nilai tukar lainnya. Negara-negara Asia memiliki 
dampak paling besar terhadap Malaysia pasar saham.

  • Data Dan Metodologi
Tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui dampaknya determinan makroekonomi pada kinerja dari
 Bursa Saham India. Penelitian ini menggunakan data bulanan selama periode Januari 1991 sampai 
Desember. Dan data untuk semua variabel makroekonomi kecuali harga minyak yang dikumpulkan 
dari database orang Indian ekonomi ini dikelola oleh Bank di  India.
Data harga minyak internasional dikumpulkan dari database dana moneter internasional. Sensex
dan data CNX Nifty diperoleh dari masing-masing bursa efek. Bisa ada jangka pendek dan jangka 
panjang, hubungan antara keuangan. Jika koefisien korelasinya lebih besar dari 0,8 maka  menunjukkan 
bahwa ada koefisien korelasi populasi, ρ, (-1<p <1) yang mengukur tingkat asosiasi linier antara dua 
variabel dan sebagai langkah penting dari Vector Error Correction Model, Augmented Dickey - Fuller 
(ADF) (1979,1981) tes telah diterapkan. Tes Dickey Fuller adalah tes yang dirancang untuk memeriksa 
apakah ρ = 1. Model lengkap dengan istilah deterministik seperti penyadapan dan tren ditunjukkan 
dalam persamaan uji akar unit ADF yang didasarkan pada null hipotesis H: Yt . Johansen 
(Johansen dan Juselius, 1990) telah mengaplikasikan pemeriksaan tentang  hubungan ekuilibrium 
jangka panjang ada diantar variabel. 


  • Analisis Empiris
Pertama, statistik deskriptif seperti Skewness, Kurtosis, Statistik Jarque-Bera, dan nilai probabilitasnya 
dihitung untuk semua variabel makroekonomi dan dua indeks saham. Jelas bahwa semua variabel 
kecuali nilai tukar secara positif. Nilai - nilai menunjukkan bahwa Suku Bunga, Harga Emas dan Harga 
Perak mengikuti distribusi dari Sensex, Nifty, Inflasi, IIP dan Harga Minyak. Dengan menggunakan 
nilai probabilitas Jarque-Bera statistik, hipotesis nol ditolak untuk semua variabel bahkan pada tingkat 
signifikansi 1%. Ini menunjukkan keacakan dan ketidak efisienan pada pasar. Hasil analisis antara 
pasar saham dan variabel makroekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa Inflasi, Indeks Produksi Industri, 
Uang Beredar, Harga Emas, Harga Perak dan Harga Minyak sangat positif berkorelasi dengan indeks 
bursa saham. Hipotesis nol dari tidak ada akar unit untuk semua variabel kecuali suku bunga tidak 
ditolak pada tingkat mereka di kedua model (yaitu konstan dan trend) karena nilai statistik uji ADF 
lebih tinggi dari nilai kritisnya. Setelah mengambil perbedaan pertama statistik uji ADF dan 
menemukan bahwa hipotesis nol dari unit root ditolak untuk semua variabel kecuali Inflasi dan
Suplai uang. Dengan demikian, Sensex, Nifty, Exchange Rate, IIP, Harga Emas, Harga Perak dan Harga 
Minyak.
  • Kesimpulan
Pasar Saham India  menggunakan data bulanan untuk periode Januari 1991 sampai Desember 2011. 
Analisis empiris menemukan tiga hasil yang menarik. Tujuan penelitian ini memiliki beberapa hal 
penting mengenai implikasi kebijakan. Pertama, nilai tukar mengandung beberapa informasi penting 
untuk meramalkan stok kinerja pasar oleh karena itu, Reserve Bank di Indonesia dan 
India harus berusaha menjaga nilai tukar yang sehat.  Kedua, karena Indeks Produksi Industri sangat 
tinggi faktor penting, pembuat kebijakan harus berusaha mendukung pertumbuhan industri melalui 
yang sesuai kebijakan. Ketiga, Uang beredar dan Inflasi sangat besar faktor yang mempengaruhi pasar 
saham, jadi regulasi tubuh harus mencoba mengendalikannya melalui Repo dan Reverse Repo rates.
Keempat, harga komoditas seperti Emas, Perak dan Minyak juga merupakan faktor penentu utama
pasar saham. Sebagian besar harga komoditas ini ditentukan di tingkat global. Akhirnya,
badan pengawas otonom dan visioner sistem pemerintahan pasti bisa menyumbang
kerja dan pengembangan yang efisien dari orang India Pasar saham.

Link jurnal asing : 

https://drive.google.com/file/d/0B-bMSzi-rkFYMHljY2loR2dZLWM/view?usp=drivesdk